Click here to edit title

"

EleveNews

Reportase Jurnalistik Kartini dalam Tembok Pingitan

Posted by himajuriisip on April 21, 2016 at 10:50 AM


 

 

Kartini, bersama kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, melewati masa pingitan dengan terus memikirkan pembebasan kaum perempuan. Segala kabar dan perkembangan dunia kerap ia baca dari surat kabar dan buku-buku sang kakak, Raden Mas Panji Sosrokartono. Dalam tembok ruang pingitan itu pula bakat menulis Kartini terasah. Dari surat untuk tokoh Belanda hingga tulisan reportase jurnalistik.

 

Tulisan pertama jurnalistik Kartini mengenai upacara perkawinan suku Koja di Jepara. Lewat tulisannya, Kartini mendeskripsikan tradisi brinei mempelai perempuan di malam sebelun pernikahan yakni mewarnai kuku jari dengan tumbukan halus daun pacar atau inai. Kartini juga menjelaskan secara detail pakaian pengantin, suasana selamatan, sampai ajuran-upacara saling menyuap nasi kuning.

 

Dikutip dari majalah Tempo edisi April 2014, sejarawan Didi Kwartanada menyebut bahwa artikel perkawinan di Pekojan yang ditulis Kartini merupakan karya tulis luar biasa. Bukan hanya wartawan pertama, Kartini pun menjadi antropolog pertama Indonesia.

 

Karangan Kartini yang berjudul "Perkawinan Itu di Koja" tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia Tenggara dan Oseania. Tulisan tersebut dibuat Kartini saat usianya masih 16 tahun. Meski begitu, Kartini justru mencantumkan nama ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, sebagai penulis. Hal itu sengaja dilakukan demi alasan keamanan.

 

Pramoedia Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja menyebutkanKartini juga menuliskan perkawinan dikalangan pembesar pribumi. Tulisan tersebut nampaknya hasil reportase dari perkawinan Kardinah, adiknya.

 

Dalam buku "Kartini: Surat-surat Kepada Ny R.M Abendanon dan Suaminya" karya Sulastrin Sutrisno, Kartini bercerita A.G. Boes, Direktur Sekolah Pelatihan Calon Kepala Bumi Putera Probolinggo, mengirimkan daftar topik yang harus ia kupas, salah satunya tentang pengajaran bumi putra untuk anak-anak perempuan.

 

Kartini nampak berbeda dengan pahlawan Indonesia lain. Meski tidak ikut angkat senjata untuk mengusir penjajah, namun dirinya tetap abadi meski seabad lebih dirinya telah pergi. Ia mengabadikan dirinya untuk generasi selanjutnya melalui tulisan, hal tersebut yang menjadi nilai lain bagi Kartini di antara kebanyakan pahlawan. (lilis Varwati)

Categories: Suara Mahasiswa, Artikel, News

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments