Click here to edit title

"

EleveNews

Perjuangan Kartini Kendeng, Habis Gelap (semoga) Terbitlah Pelangi

Posted by himajuriisip on April 21, 2016 at 10:50 AM


Oleh: Siska Permata Sari

 

Mengingat perjuangan perempuan, seharusnya bukan hanya hari ini saja, saat tanggal lahir Raden Ajeng Kartini yang kerap dikait-kaitkan dengan bangkitnya emansipasi di Indonesia. Jika Kartini yang pada abad 19 berjuang untuk pendidikan bagi perempuan, di era reformasi sembilan kartini bersikeras mempertahankan tanah mereka demi hidup yang tidak ingin semakin kurang layak.

Belum lama ini, pada Selasa(12/4) siang, Sembilan Kartini Kendeng, yakni Sukinah, Karsupi, Sutini, Surani, Murtini, Giyem, Ngadinah, Rifambarwati, Deni Y, menggelar aksi Pasung Semen. Mereka berjuang bukan hanya untuk diri sendiri dan hak-haknya sebagai perempuan, tetapi demi anak dan cucunya kelak. Melawan raksasa korporasi yang mulutnya tengah terbuka hendak melahap tanah mereka. Sawah mereka. Air bersih mereka. Penghidupan mereka. Rata-rata mereka adalah ibu-ibu petani dari Kendeng yang melawan pembangunan pabrik semen.

 

Seperti Kartini yang tak kunjung kehilangan asa meski terpaksa putus sekolah, terpaksa dipingit selama enam tahun, terpaksa menikah muda dengan lelaki yang tak dikenalnya, dan terpaksa menjadi istri kedua dari pernikahannya. Para kartini Kendeng pun terus berjuang walau harus berjalan kaki 122 km, menjemput keadilan dari Pati ke Semarang membawa hasil bumi dan memakai simbol topi caping di kepala mereka. Membunyikan lesung di depan Istana Presiden. Membangun tenda di PT. Semen Indonesia. Melawan kehendak aparat Negara untuk segera minggir. Dipukuli aparat Negara. Hingga dilempar ke semak-semak.

 

Jika, ratusan tahun lalu hak bersekolah Kartini 'terpasung' oleh pingitan, kini sembilan reinkarnasi kartini terpaksa memasung kedua kaki masing-masing dengan kayu dan semen, tanda penolakan keras terhadap pembangunan pabrik semen yang dampaknya tak main-main terhadap lingkungan dan penghidupan di masa mendatang.

 

Berabad lalu, Kartini kerap merindukan bebasnya hak pendidikan bagi perempuan. Di abad ini, sembilan kartini Kendeng menunggu pemerintah mau mendengar keluh kesah dan kecemasan-kecemasan mereka. Dua hari satu malam mereka memasung kaki.

 

Keesokan hari, Rabu (13/4) ketika Jokowi berjanji hendak menemui mereka, akhirnya mereka mau melepaskan belenggu semen yang memasung kaki. Air mata menetes dari perempuan-perempuan perkasa itu ketika pasung semen dilepaskan dari kaki mereka. Dan pelangi muncul seusai hujan sore itu, menghadiahi perjuangan mereka yang hingga hari ini masih disemogakan dapat berakhir seindah senja yang berpelangi.

 

Seorang perempuan, bukan hanya seorang perempuan. Mereka manusia yang memiliki hak-hak dasar sebagai manusia. Manusia yang bisa berpikir, manusia yang bisa bersuara, manusia yang mampu berjuang. Namun mereka tetap seorang perempuan, yang lembut, penuh kasih, dan sayang. Sesuai kodrat sebagai perempuan, yang sama haknya sebagai manusia. Selamat Hari Kartini, Perempuan Indonesia.

Categories: News, Suara Mahasiswa, Artikel

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments